“Enam Cahaya”
Penulis Naskah : Sachrul Muh Saleh
Cerita ini menceritakan tentang anak-anak yatim-piatu
yang mempunyai mimpi dan pengharapan yang besar yaitu ingin merasakan
pendidikan dan kebahagian yang sama dengan teman-teman sebayanya tapi mereka dimanfaatkan
oleh salah seorang anggota komplotan penculik anak-anak.
Pemeran Enam Cahaya:
1. Sinar, Frumensiana, Nuraeni, Lia, Irma dan Kiki
sebagai anak yatim
2. Hasan sebagai bos
3. Haerul dan Ratna sebagai pengawas lapangan
4. Hermawan
sebagai perekrut
5. Kasma sebagai ibu penolong
6. Yoris, Wati, Hermina, dan Jumriana sebagai Intelijen
kepolisian
7. Pemeran pembantu
Di
siang hari yang begitu panasnya menyengat tubuh, Sinar 14 tahun dan frumensiana
16 tahun yang kabur dari tempat tinggalnya disebuah yayasan karena merasa tidak
nyaman, mereka berjalan-jalan sambil menunggu secercah harapan datang
menghampirinya!!
Sinar
: kita mau kemana?
Ana
: saya juga tidak tahu, sekarang saja kita ada dimana?
Sinar
: Ana, seandainya saja kita masih punya orang tua mungkin kita tidak akan
seperti ini! Sambil berhenti sejenak dengan wajah yang sedih
Ana
: iya, mungkin ini sudah takdir kita!
Sinar
: saya ingin bisa ada disamping mereka, dalam pelukan mereka, tapi kenapa tuhan
sudah memanggilnya!
Ana
: kita harus kuat, harus bisa bertahan dan kita akan sama-sama melewatinya.
Sinar
: orang tuaku sudah tidak ada, saya tidak mau kalau sampai kehilangan sahabat
seperti kamu! Sambil menatap Ana…
Dirumah
para penculik sudah ada empat anak yatim-piatu yang mereka culik pada saat
mereka bermain-main diluar yayasan dan bos penculik itu butuh 2 lagi anak
yatim-piatu. Diruang tamu mereka berkumpul dan sedang bersiasat untuk mencari
tambahan.
Bos
: kita kayaknya butuh 2 anak lagi!
Haerul
: saya kira itu sudah cukup bos.
Hermawan
: iya bos, kenapa kita perlu mencari lagi
Bos
: kalian tahu tidak, mereka itu adalah aset kita
Ratna
: aset apa sih bos, malah mereka hanya merepotkan kita.
Bos
: kita bisa memaanfaatkan mereka untuk mencari uang atau kita bisa jual mereka
Hermawan
: saya setuju bos kalau berurusan dengan uang, saya selalu didepan. Bagaimana
Haerul? Dengan penuh semangat
Haerul
: kalau bos yang bilang, saya tidak bisa apa-apa, saya setuju.
Ratna
: saya sih ikut saja bos, apalagi itu keputusan dari bos!
Bos
: oke, semua sudah setuju, seperti biasa ini adalah tugas Hermawan.
Hermawan
: siap bos.
Bos
: kita bersulang!
Masih
didalam rumah para penculik, Nuraeni 16 tahun, Lia 12 tahun , Irma 12 tahun,
dan Kiki 15 tahun mendengar pembicaraan mereka dibalik pintu.
Kiki
: apakah kalian mendengar yang mereka katakan?
Irma
: iya, saya mendengarnya.
Nuraeni
: saya juga mendengarnya, mereka ingin mencari anak-anak yang senasip dengan
kita untuk dimanfaatkan.
Irma
: apakah kita akan dijual sama mereka?
Semua
terdiam, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Irma. Beberapa menit berselang,
Kiki berkata.
Kiki
: saya bingung, kata mereka kita akan hidup enak, dijamin sekolahnya dan punya
banyak teman, tapi nyatanya….
Nuraeni
: mereka juga mengatakan hal yang sama pada kami, betulkan Rin?
Lia
: hanya menganggukkan kepalanya, karena ketakutan!!
Irma
: kamu kenapa?
Lia
: saya takut kalau sampai terjadi sesuatu sama kita semua.
Nuraeni
: tenang saja de, kita akan saling melindungi dan saling menjaga, tuhan juga bersama
kita! Mengelus bahu Lia.
Masuk
Ratna dikamar anak-anak, dengan suara keras dan memarahi mereka
Ratna
: apa yang kalian lakukan sampai kalian belum tidur!
Irma
: tidak ada kak, kami hanya…. Sambil terbata-bata
Ratna
: kami hanya apa… kalian ingin kabur darisini!
Nuraeni
: kami tidak punya niat tuk kabur kok kak!
Ratna
: kalau begitu, tidur sekarang! Jika ada saya dengar suara, saya akan hukum
kalian semua.
Kiki
: baik kak, selamat malam kak! Dengan suara mengejek.
Ratna
langsung keluar tanpa sepatah katapun dengan wajah yang penuh amarah.
Keesokan
harinya, disebuah taman bunga dan tempat bermain, Sinar dan frumensiana lagi
duduk-duduk sambil melihat anak-anak lain bermain bersama orang tuanya.
Sinar
: kamu lihat anak itu disana, dia senang sekali? “Menunjuk kearah anak itu
bermain
Ana
: iya, saya juga daritadi memperhatikannya
Sinar
: kapan ya, kita merasakan kebahagiaan itu?
Ana
: entahlah!!
Sinar
: mungkin juga kita tidak akan pernah merasakannya.
Ana
: jangan pernah berkata begitu,,
Sinar
: menghayal!!
Ana
: hee… kenapa diam
Sinar
: dengan ekspresi kaget!!!
Ana
: kamu menghayal ya?
Sinar
: tersenyum, saya lagi membayangkan kalau orangtuaku ada didekatku sekarang.
Seketika
itu datang seorang pria menghampiri mereka dan duduk disamping mereka yang
mereka sendiri tidak tahu siapa dia.
Hermawan
: kenapa kalian tidak main bersama dengan anak yang lain?
Ana
: kami lagi malas, om!!
Sinar
: bapak siapa dan dimana anaknya, kok tidak diajak main, pak?
Hermawan
: bapak Hermawan tapi panggil saja om Wawan! anak bapak lagi dirumah sama ibu.
Hermawan
: orang tua kalian mana?
Sinar
: Orang tua kami sudah tiada
Hermawan
: Om minta maaf. Kalau begitu kalian tinggal dimana?
Sinar
: menyuruh Ana untuk menjawab..
Ana
: awalnya kami di yayasan tapi kami kabur darisana!
Hermawan
: kalian mau ikut om?
Ana
: kemana?
Hermawan
: dirumah, disana om berikan fasilitas lengkap, kalian bisa bersekolah
dimanapun kalian mau, dan disana juga ada teman sebaya kalian.
Tanpa
menaruh curiga sedikitpun , karena penjelasan bapak itu, mereka punya sedikit
harapan bahwa hidup mereka bisa berubah.
Setibanya
dirumah, mereka berdua kaget melihat isi
ruang tamu yang berantakan dan penuh botol minuman keras..
Ana
: “sambil tidak percaya”, Om tidak salah masuk rumah kan?
Hermawan
: hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyuman
Tidak
lama kemudian keluarlah bosnya dari kamar…
Bos
: ini baru anak buahku,,, (sambil memanggil Ratna)…Ratna..Ratna!
Ratna
: ada apa bos?
Bos
: bawa mereka kekamarnya…
Ratna
: oke bos.
Ratna
: Ini kamar kalian dan satu kamar untuk kalian berenam.
Nuraeni
: “menyambut mereka” jangan takut kita senasip!
Ana
dan Sinar tanpa banyak kata, karena mereka tidak pernah menyangka bahwa akan
seperti ini.
Diluar
sana sedang membicarakan tentang aksi..
Bos
: kita bisa beraksi besok!! Saya ingin Haerul dan Ratna awasi mereka.
Haerul
dan Ratna : oke bos.
Keesokan
harinya,,
Ratna
: bangun, bangun!!!! Dengan suara lantang
semua
: terbangun
Ratna
: sekarang, kalian bersiap-siap
Lia
: (dengan kepolosannya, kegirangan) kita mau ke sekolah kan?
Ratna
: siapa bilang kalian mau ke sekolah?
Lia
: tertunduk!
Irma
: kata pak Hermawan seperti itu..
Ratna
: tapi kata saya …tidak…. Saya tunggu kalian semua diluar.
Setelah
beberapa jam kemudian, semuanya sudah siap dan berkumpul dihalaman rumah.
Haerul
memastikan tidak ada yang tertinggal… sebelum berangkat Haerul membagi dua
mereka, kelompok 1 ikut Haerul dan kelompok 2 ikut Ratna, mereka pun berjalan
kaki menyusuri jalan-jalan utama yang membahayakan keselamatan mereka sambil
diawasi dari belakang..
Mereka
mulai mengamen : Last Child – sekuat hatimu
Hari
pertama bos sangat puas karena pendapatan mereka yang terbilang besar, tapi
Waktu
demi waktu berlalu, bulan demi bulan berganti, banyak hal yang mereka sudah
lewati termasuk penyiksaan, ketika mereka mendapatkan hasil yang sedikit, mereka akan disiksa dan dianiyaya
Sudah
4 bulan, hari demi hari mereka lalui dengan kegiatan yang sama yaitu mengamen
dan beberapa kali penyiksaan… seiring dengan berjalannya waktu mereka mulai
melawan dan memberontak…
Ketika
mereka/ para penculik itu semua berkumpul di ruang tamu dan berpesta minuman
keras. Sinar, Frumensiana, Nuraeni, Marina, Hasni dan Kiki berniat untuk
melaporkan mereka kekantor polisi..
Kiki
: salah satu dari kita harus ada yang keluar.
Nuraeni
: saya takut.
Lia
: saya juga.
Sinar
: saya tidak bisa meninggalkan Ana karena saya tidak mau 2x kehilangan!
Ana
: saya tidak mau kehilangan kalian.
Kiki
: kalau begitu biarkan saya yang keluar dari rumah ini.
Irma
: saya akan membantu kakak memeriksa ruang tamu, apakah mereka sudah terlelap
atau belum? (membuka pintu dengan hati-hati)
Nuraeni
: urungkan niatmu kiki, jika sampai kamu ketahuan kita semua bisa dibunuhnya..
Kiki
: tekadku sudah bulat.
Irma
: aman kak. Mereka semua tertidur. “Sambil membisik”
Kiki
bergegas keluar, ketika mau membuka pintu keluar, tiba-tiba Hermawan... Kiki
ketakutan tapi dia tetap melanjutkan langkahnya.
Setelah dia berada diluar, dia mulai bingung
mau kemana. Akhirnya dia menangis dipinggir jalan, tidak lama kemudian ada
seorang ibu mendekatinya.
Ibu
Kasma : kamu kenapa, kok menangis?
Kiki
: pingsan!
Keesokan
harinya,
Kiki
: terbangun, dimana ini?
Ibu
Kasma : kamu sedang berada dirumah ibu! Semalam kamu pingsan
Kiki
: (tersadar akan teman-temannya) teman saya dalam bahaya bu!!
Ibu
Kasma : bahaya kenapa?
Kiki
: bu bawa saya kekantor polisi sekarang. “Panik dan khawatir terjadi sesuatu sama
teman-temannya”
Ibu
Kasma : saya akan bawa kamu kekantor polisi tapi jelaskan dulu sama ibu, apa
yang terjadi?
Kiki
: memperlihatkan luka akibat penganiyayaan.
Ibu
kasma : baiklah, kita ke kantor polisi sekarang.
Kantor
Polisi…..
Polisi
1 : selamat pagi bu, ada yang bisa kami bantu?
Ibu
Kasma : begini pak, anak ini korban penganiyayaan.
Polisi
1 : ibu beserta adik, tunggu sebentar, kami akan panggilkan pak yoris
Pak
Yoris : selamat pagi bu, perkenalkan saya pak yoris yang akan menangani kasus
anak ibu. (Persilahkan duduk)
Ibu
kasma : ini bukan anak saya pak, saya hanya ingin membantu anak ini!!
Pak
yoris : bisa ceritakan dek, bagaimana kronologisnya?
Di
Rumah para penculik…..
Bos
: bangunkan anak-anak, waktunya bekerja! (Masih dalam keadaan mabuk)
Haerul
: oke bos. (Masih dalam keadaan mabuk)
Haerul
: mengetuk pintu dengan keras, buka!!
Ketika
pintu terbuka Haerul memperhatikan semua dan…
Haerul
: kemana Kiki? tidak ada yang bersedia menjawab berarti kalian bersedia
menerima hukuman.
Haerul
melapor sama bos.
Haerul
: bos, Kiki kabur?
Bos
: Apa….
Seketika
itu mereka semua mencari kiki, mereka memeriksa semua tempat tapi tidak ada
tanda-tanda keberadaan kiki, beberapa jam kemudian merekapun kembali tanpa
hasil dan mereka berkumpul di ruang tamu sambil bos memarahi anak buahnya.
Di
Kantor Polisi
Pak
yoris, Bu Wati, Bu Hermina dan Bu Jumriana sedang rapat strategi penangkapan.
Pak
yoris : saya sudah dapatkan lokasi target..
Bu
wati : pak, kali ini tidak boleh gagal, buronan ini sangat licik.
Pak
yoris : saya tahu itu
Bu
Jum : pak, saya dapat informasi, mereka berjumlah 4 orang
Bu
Hermina : pak, saya juga dapat informasi kalau rumah itu cuma satu pintu
belakang.
Pak
Yoris : bagus. Baiklah saya akan bagi posisi kalian. Bu Hermina dan Bu Wati
posisi siap disini.. (sambil menunjuk arah) saya beserta Bu Jum akan masuk
lewat pintu depan dan membawa surat penangkapan..
Pak
Yoris : ada pertanyaan?
Bu
Wati : bagaimana kalau tersangka menyandera korban?
Pak
yoris : jangan biarkan itu terjadi, makanya posisi dibelakang harus cepat masuk
Bu
Hermina : siap pak.
Bu
Jum : saya bisa bawa personil tambahan untuk jaga-jaga pak?
Pak
yoris : bisa!
Pak
Yoris : sekarang, kita mulai penyergapan..
Semua
: Siap komandan! Beri hormat.
Bersiap-siap
untuk penyergapan dan penangkapan tersangka penganiyayaan sekaligus buronan
yang bertahun-tahun masuk DPO.
Lokasi
Penyergapan!!!
Bu
Jum : {mengetuk pintu} selamat siang pak.
Hermawan
: selamat siang, ada apa ya bu?
Bu
Jum : kami dari kepolisian, kami mau bertemu bapak Hasan!!
Haerul
: (keluar ) kami tidak kenal pak Hasan.
(Hermawan
yang saat itu memberitahu bosnya kalau ada polisi dan mereka bersiap untuk
kabur melalui pintu belakang)
Bu
Jum : anda bisa ditahan karena anda membantu buronan untuk kabur.
Haerul
: {menutup pintu}
Pak
Yoris : {menahan pintu dengan kakinya} jangan bergerak
Semua
mau kabur lewat belakang tapi dengan
sigap Bu hermina dan bu Wati masuk.
Setelah
mereka tertangkap, ibu Kasma dan Kiki masuk ke dalam rumah untuk membebaskan
sahabat-sahabatnya yang berada dikamar. Mereka pun berpelukan dan semua
berjanji (apapun yang terjadi kita tidak akan terpisah karena kita adalah
keluarga) dan ibu Kasma mengangkat mereka semua menjadi anak-anaknya dan
menyekolahkan mereka semua sampai keperguruan tinggi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar